<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21205763</id><updated>2011-05-03T06:59:29.868+07:00</updated><title type='text'>satulimasembilan</title><subtitle type='html'>Tulisan yang belum pernah diserahkan editor, diedit, bahkan dimuat sekalipun.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>satulimasembilan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01497138561517184176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/6895/2142/1600/ROBY_NUGRAHA.1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21205763.post-114703415530842421</id><published>2006-05-08T03:31:00.000+07:00</published><updated>2006-05-08T03:35:55.320+07:00</updated><title type='text'>DUNIA SEMU</title><content type='html'>&lt;em&gt;Dunia semu&lt;br /&gt;terjebak, aku di dalamnya...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah. Kalo saja saya dikasih talenta seperti Aji Gergaji, mungkin saya bakal bikin lagu serupa. Saat pikiran tersesat dalam labirin sempit. Penuh ketidakpastian. Ragu. Kecewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, senang dan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, seorang teman meracun saya menhadiri labirin itu. Dia sempat bercerita pengalaman manis dan buruk yang pernah dilewatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, tanpa babibu, saya tertarik dan implementasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari, seminggu, dua minggu. Persis pakem minum obat--tiga kali sehari--labirin itu saya kunjungi. Rumah, kantor, dan tempat mangkal. Plus warnet yang jadi bonus. Bahkan, untuk orang terdekat sekalipun, kadang saya rela menomorduakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang terlalu istimewa di labirin ini. Semua berjalan seperti kehidupan, dan hal-hal logis yang bisa melebarkan pikiran kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak percaya? Berikut saya kutip beberapa keterangan yang ada dalam labirin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebuah kota metropolitan untuk preman, berandalan, dan kriminal. Kau punya waktu yang terbatas untuk mengumpulkan 'kehormatan' sebanyak mungkin. Yang memiliki 'kehormatan' tertinggi di akhir permainan ini menang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, tindak kriminal yang sempurna adalah menikam orang dengan sebilah es tajam. Bukti kejahatan mencair hilang secara alami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjrit, lo emang tobb. Semudah membalik telur. Nggak ada yang lebih susah lagi apa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, labirin itu adalah menjadi kriminal virtual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shit! Nggak penting banget. Wasting time. Tapi, ada sisi boyish di tiap laki-laki bukan? Bayangkan, kita bisa ngutil toko kecil sampe fort knox. Semua, bisa berhasil dengan perencanaan matang kita sendiri, atau dengan bantuan gang. Halah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, kita bisa punya lonte plus rumah perek yang dijaga satpam. Bisa juga punya pabrik drugs dengan kapasitas produksi tiap hari yang terbatas, dan produknya (drugs), bisa dijual di bar atawa diskotik. Kecapean? Dateng aja ke tempat dugem tadi buat ngedrugs dan dongkrak stamina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirik sama penjahat lain? Kita bisa "ratakan muka mereka dengan tanah" atau sabotase tempat usaha mereka. Kurang kuat, beli aja tongkat bisbol sampe senjata rambo buat nyerang musuh. Jangan lupa, lengkapi bodi sama armor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duit? Ya, tenang aja. Selain didapat dari ngerampok, bisnis perek, drugs, judi, dan bunga bank jadi sumber pendapatan. Salah langkah? Ati-ati, kita bisa dipenjara atawa masuk UGD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shit! Masih banyak lagi yang bisa digali. Semuanya bakal kita dapet kalo klik www.thecrims.com. Njis, kayak promo gini ya? Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia semu, Ji, dunia semu... dan aku terjebak di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetep, es tajam mencair dan hilang secara alami. Di dunia nyata sekalipun.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21205763-114703415530842421?l=satulimasembilan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/feeds/114703415530842421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21205763&amp;postID=114703415530842421' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/114703415530842421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/114703415530842421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/2006/05/dunia-semu.html' title='DUNIA SEMU'/><author><name>satulimasembilan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01497138561517184176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/6895/2142/1600/ROBY_NUGRAHA.1.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21205763.post-114269437176437827</id><published>2006-03-18T22:04:00.000+07:00</published><updated>2006-03-18T22:06:11.773+07:00</updated><title type='text'>SAHABAT</title><content type='html'>Seorang teman di kampus, pernah bikin saya mangkel. Saat saya panggil dia sahabat karena banyak memberi pinjam buku, dia menampik. "Sahabatku adalah kebenaran," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya? Hanyalah seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, rekan, sahabat, soul mate, orwhatsoever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kejadian itu mengingatkan pada sebuah tulisan opini pengantar saat test calon wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan itu, saya bilang wartawan adalah satu dari tiga profesi yang membuat seseorang masuk neraka tanpa hisab. Dua lainnya, pengacara dan pelacur. Namun, saya tidak mau masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, sangat simpel. Alih-alih ibadah belang betong yang jadi katarsis, saya pegang teguh ucapan teman saya tadi. Ya, kebenaran sebagai sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utopis memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu lalu, sahabat saya ternoda oleh tamaknya beberapa gelintir orang. Pedih, dan kadang bikin saya tertawa sendiri. Bukankah bila seseorang terlalu cinta kepada sahabatnya, rasa itu dapat berbalik 180 derajat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan buah simalakama, dimakan mati ibu tak dimakan mati bapak. Andai saja bisa dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi pada keinginan saya: surga. Saya tetap cinta pada sahabat tadi. Namun, yang kemudian dipertanyakan, parameter apa yang lantas dipakai? Sosialkah? Perusahaankah? Pribadikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan seprofesi lantas berbagi kisah. Ia berkata jadilah bos bagi profesi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, teman-teman itu. Akankah saya bertemu mereka pada saatnya nanti?***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21205763-114269437176437827?l=satulimasembilan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/feeds/114269437176437827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21205763&amp;postID=114269437176437827' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/114269437176437827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/114269437176437827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/2006/03/sahabat.html' title='SAHABAT'/><author><name>satulimasembilan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01497138561517184176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/6895/2142/1600/ROBY_NUGRAHA.1.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21205763.post-113923149478869003</id><published>2006-02-06T20:05:00.000+07:00</published><updated>2006-02-06T20:11:34.813+07:00</updated><title type='text'>KODE</title><content type='html'>Kode. Sebuah hal menghantui saya tadi malam. Ceritanya, saya menyalakan ponsel. Selang beberapa saat, ponsel meminta saya memasukkan personal identification number (baca: pin). Saya menekan lima dari sepuluh angka yang menempel di tuts ponsel. Secara sadar, saya memasukkan kode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memasukkan delapan digit angka. Angka-angka tersebut kemudian diproses secara biner: 0 dan 1 untuk menghasilkan kombinasi tertentu dan menjadi sebuah data akses. Mungkin saya sok tahu. Mungkin juga benar. Bukankah terkadang ada sebuah "kebenaran" (baca: kebetulan) dalam setiap ke-sok-tahuan? Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oks, yang jelas, saya tidak tahu persis bagaimana prosesnya:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut, saya mengirim seorang teman sebuah pesan pendek (sandek). Agar sandek terkirim, saya harus memasukkan nomor yang tepat. Secara sadar, saya memasukkan sebuah kode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, sebuah laporan bahwa pesan saya terkirim, masuk. Tak lama setelahnya, ada sandek dari operator ponsel. "Selamat, kamu dapat bonus pulsa blabla. Pulsa kamu sekarang blabla. Ketik nama (spasi) alamat (spasi) no identitas ke blabla. Berarti, saya harus membuka dompet, mengeluarkan KTP untuk melihat nomor KTP yang saya tidak hapal--alih-alih mencocokkan ejaan nama dan alamat, hehehe.... Kode lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu dompet dibuka, tak sengaja saya melihat kartu ATM. Penuh kode. Kartu kredit, berkode pula. Kartu jamsostek, juga berkode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, struk pembayaran yang berkode. Kode!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, setiap hari, pantat saya penuh kode, dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suratkabar tempat saya bekerja, wartawan diberi kode. Kode ini dipakai sebagai kredit bagi setiap berita yang ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada amplop gaji, tertera pula kode yang menunjukkan nomor induk karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sama tertera pula pada kartu karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kalau saya melirik jam tangan hadiah ulang tahun. Digital, dan berkode penunjuk seri keluaran produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Software yang saya pakai pun, untuk menginstallnya diperlukan kode. Meski saya tahu itu bajakan, tapi toh, itu tetap merupakan kode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, hipotesa saya, setiap hari kita tak lepas dari kode-kode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan, kita--secara individu--berkode pula. Mungkinkah kalau nama (ya, nama saya, nama kamu), merupakan sebuah kode pula, namun bukan dalam format angka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who knows?***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21205763-113923149478869003?l=satulimasembilan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/feeds/113923149478869003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21205763&amp;postID=113923149478869003' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/113923149478869003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/113923149478869003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/2006/02/kode.html' title='KODE'/><author><name>satulimasembilan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01497138561517184176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/6895/2142/1600/ROBY_NUGRAHA.1.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21205763.post-113768236035010776</id><published>2006-01-19T21:51:00.000+07:00</published><updated>2006-01-19T21:52:40.360+07:00</updated><title type='text'>MODUS</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Kalau saja ada hari yang paling bikin saya mual di bulan ini, bisa jadi hari itu Rabu (18/1).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, seorang narasumber yang baru bertemu dua kali menelefon. "Rob, nanti sore kita bikin press conference, tolong kasih kabar temen-temen yang lain, ya...," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas saja saya kontak teman-teman yang lain. What the hell dengan eksklusivitas berita. Yang jelas, agendanya cukup signifikan: "menggoyang" orang nomor satu di provinsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, berangkatlah saya dan seorang teman dari media lain. Sebelum memasuki lobby hotel, saya berpesan agar dia berhati-hati. "Awas, biasanya suka dibom," ujar saya. Dia hanya tersenyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu pres conference dimulai, narasumber tadi menyampaikan rasa terima kasih pada media tempat saya bekerja atas dukungan padanya. Teman saya tadi berbisik, "Lu dibayar berapa?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang emosi saya meninggi. Tapi, bisa saya redam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir press conference, saya sengaja menyelinap diam-diam keluar. Takut kena bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sang narasumber sedang duduk di depan ruangan. Begitu lihat saya bergegas, ia datang menghampiri sembari mengeluarkan gepokan uang lima puluh ribuan. Diambilnya sekira empat sampai lima lembar, dan disodorkannya pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan, saya menolak. Bukan kebiasaan saya menerima uang dari narasumber. Bukan prinsip saya. Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari sikap sok suci orwhatsoever, itulah sikap saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berlari menjauhi narasumber tadi. Setelah agak jauh, saya menoleh ke belakang. Teman saya dan beberapa rekan seprofesi lainnya sedang menengadahkan tangan. What the?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di kantor, saya buka imel. Kebetulan, dalam satu milis yang saya ikuti, topik terhangat saat itu adalah soal amplop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca beberapa pendapat anggota milis yang pro, maupun kontra. Kontra, karena sebuah agama bernama idealisme. Pro, karena kesejahteraan di media tidak merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun, itulah kondisi yang sering saya hadapi. Amplop, wartawan bodrex, atau orang-orang bermotif lainnya. Beberapa rekan menyebutnya "modus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan? Ah, terlalu mementahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, seorang teman pernah berujar kalau saya akan mendapat imbalan yang lebih jelas. Dalam bentuk apa pun. Dan, saya percaya itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di rumah, saya merasakan panasnya sebuah balsam, hingga hampir dua jam lamanya. Gel itu mampir di tubuh, karena sakit pinggang menghinggapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Imbalan yang lebih jelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya setuju dengan itu. Namun, bukan karena saya sok suci orwhatsoever. Tak lain dan tak bukan, karena saya kurang minum.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21205763-113768236035010776?l=satulimasembilan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/feeds/113768236035010776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21205763&amp;postID=113768236035010776' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/113768236035010776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21205763/posts/default/113768236035010776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satulimasembilan.blogspot.com/2006/01/modus_19.html' title='MODUS'/><author><name>satulimasembilan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01497138561517184176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/6895/2142/1600/ROBY_NUGRAHA.1.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
